26

Ada masa ketika arah terasa buntu,

langkah berjalan
tanpa benar-benar tahu menuju mana.

Lalu, tanpa banyak suara,
sebuah pintu terbuka,
tidak megah,
tidak juga dipanggil dengan sorak.

Hanya cukup
untuk membuatku berhenti sejenak
dan percaya lagi.

Di baliknya,
bukan sekadar ruang baru,
melainkan kesempatan
untuk menulis ulang
hal-hal yang dulu sempat terlewat.

Aku masuk
dengan sisa-sisa ragu
dan harapan yang belum sepenuhnya utuh,
sambil diam-diam berharap
langkah kecil ini
mengantarkanku
pada pintu-pintu yang lebih luas.

Namun kali ini
aku tidak datang sebagai orang yang sama.

Barangkali ini bukan awal,
dan bukan pula akhir,

melainkan jeda yang diberikan hidup
agar aku bisa mencoba lagi,
dengan cara yang lebih mengerti
siapa diriku sebenarnya.