Aku yang Memilih Tidak Menggapai

 aku menyebut namamu dalam diam,

seperti doa yang tersangkut di tenggorokan,

tak pernah jatuh, tak pernah sampai.


Kau hadir di hidupku

saat aku terbiasa sendirian,

membawa tangan yang ringan menolong,

dan mata yang seolah mengerti tanpa aku jelaskan.


Aku menaruh hati padamu, tapi tidak cukup buta

untuk tak melihat retak di dirimu.

Aku tahu, jika aku melangkah lebih jauh,

aku yang akan jatuh paling dalam.


Maka aku memilih diam,

meski hatiku berisik memanggil namamu

setiap malam.


Lalu tiba- tiba kau datang,

bukan di dunia nyata,

tapi di mimpi yang terlalu indah untuk sekadar tidur.


Kita berjalan sebagai “kita”,

seperti kembali ke musim kuliah yang tak lagi ada,

tawa kita mengalir

di sela bisik-bisik yang tak sempat melarang,

jari-jemari kita bertaut tanpa ragu,

seolah dunia tak pernah belajar memisahkan,


dan masa depan kita bicarakan perlahan,

seakan-akan semesta diam-diam mengizinkan.

Namun pagi selalu kejam.

Ia membangunkanku pada kenyataan

yang tak pernah memberi kita kesempatan.


Kini kau jauh,

membawa hidupmu sendiri di kota lain,

bersama seseorang yang bukan aku,

mungkin yang akan kau sebut rumah.


Dan aku di sini,

belajar mengecilkan rasa

yang dulu tumbuh terlalu besar.