Hampir

 Satu kalimat jatuh ringan,

tapi hatiku menampungnya
terlalu dalam.

Aku menjawab dengan aman,
kata-kata yang sudah kucuci bersih,
agar tak ada yang salah.

Sejak itu,
kenangan itu tak pernah benar-benar selesai,
ia tinggal
di kepalaku yang terus mengulang,

tentang satu hal sederhana,
aku terlalu cepat diam
saat seharusnya jujur.

Aku menyangkal kemungkinan
sebelum sempat tumbuh,
menjaga diri
dengan cara yang justru menyakitiku sendiri.

Aku menunggu reaksi,
satu kalimat saja,
satu tanda bahwa aku salah bicara

Aku memutar ulang sore itu
berkali-kali,
berandai andai,
mengganti jawabanku,
mengubah nadaku,
mencari versi
di mana aku tidak kehilangan apa-apa.