Aku berdiri di ujung cahaya
yang dulu kupanggil takdir,
dengan langkah yang telah kupahat
bertahun-tahun lamanya.
Segala yang kupakai hari ini
bukan sekadar pilihan
ia adalah kumpulan waktu,
latihan diam-diam,
dan mimpi yang tumbuh terlalu serius.
Aku pernah percaya,
jika aku cukup siap,
cukup pantas,
cukup lama bertahan,
maka pintu itu akan terbuka
tanpa perlu kutanya.
Namun malam ini berbeda.
Lampu masih menyala,
tapi namaku tidak dipanggil.
Tepuk tangan tetap terdengar,
tapi tidak untukku.
Dan anehnya,
yang terasa hilang
bukan hanya kesempatan,
melainkan arah
yang selama ini kutuju tanpa ragu.
Aku pulang membawa sunyi
yang tak pernah diajarkan siapa-siapa
sunyi setelah percaya sepenuhnya,
lalu harus belajar melepaskan
tanpa benar-benar siap.
Barangkali,
tidak semua yang diperjuangkan
ditakdirkan untuk dimiliki.
Barangkali,
ada mimpi yang fungsinya
bukan untuk dicapai,
melainkan untuk membentuk
siapa kita saat mengejarnya.
Dan jika benar begitu,
maka yang berdiri hari ini
bukan seseorang yang kalah
melainkan seseorang
yang telah selesai
menjadi versi lamanya.