Percakapan yang Tak Pernah Jadi Kita

 Di antara sunyi yang kita pelihara,

namamu datang tanpa pernah benar-benar tiba.
Seperti hujan yang menggantung di langit,
ingin jatuh, tapi ragu menyentuh bumi.

Kita bicara di jam-jam yang rapuh,
saat dunia lain tertidur,
dan perasaan jadi lebih jujur
meski selalu kita sembunyikan
di balik tawa yang pura-pura ringan.

Kamu pernah singgah,
di sela lelah dan sepi yang kupunya,
membawa hangat sebentar saja
lalu pergi tanpa benar-benar pamit.

Aku menghafal caramu hadir:
setengah niat, setengah hilang.
Menggenggamku lewat kata,
lalu melepasku lewat diam.

Tak ada yang bisa kusebut salah,
karena kita pun tak pernah benar.
Hanya dua orang
yang saling menemukan rasa,
di waktu yang tak tahu arah.

Dan yang paling menyakitkan bukan kehilanganmu,
melainkan kenyataan bahwa
aku tak pernah benar-benar memilikimu.

Kita ini seperti doa yang terputus di tengah kalimat
masih menggantung,
masih berharap,
namun tak pernah sampai.