aku tidak dilahirkan dengan tempat pulang
hanya dengan tuntutan yang menunggu dipenuhi
di rumah yang sama,
namaku disebut dengan nada yang berbeda
bukan karena aku paling kuat
tapi karena aku paling mirip dia,
lelaki yang tak lagi tinggal,
namun bayangnya dititipkan padaku
aku sering di pandang seperti cermin yang retak
setiap salahku adalah gema masa lalunya
setiap diamku dibandingkan
aku belajar jadi sempurna
bukan karena ingin,
tapi karena tidak diberi pilihan
aku harus jadi contoh
harus lurus, harus benar, harus sesuai
seolah hidupku sudah ditulis orang lain
dan aku hanya diminta menghafalnya
padahal aku juga ingin salah
ingin jatuh tanpa takut dihakimi
ingin menangis tanpa merasa lemah
tapi tidak ada bahu
tidak ada tangan yang menenangkan
sejak kecil aku dipaksa berdiri
bahkan saat kakiku gemetar sendiri
jadi aku keras
pada diriku sendiri
karena dunia pertamaku
tidak pernah mengajarkanku
bagaimana caranya dipeluk
dan sampai hari ini
aku masih belajar
bagaimana menjadi rumah
untuk diriku sendiri