Sejujurnya, Aku yang Memberi Jarak

 Aku pandai memulai,

menyusun rasa seperti strategi,

rapi, terukur, tak pernah kalah di awal.


Namun setiap langkah mendekat,

ada sesuatu dalam diriku

yang berbisik pelan:

“cukup sampai sini.”


Sayangnya aku mundur

sebelum benar-benar tiba.


Aku jatuh cinta

pada kemungkinan,

pada bayangan,

pada cerita yang bahkan belum sempat terjadi.


Yang jauh terasa aman,

yang tak pasti terasa nyaman,

yang tak pernah kumiliki

tak pernah bisa benar-benar kehilanganku.


Aku menyimpan rasa

pada yang tak pernah meminta,

mengagumi tanpa suara,

berharap tanpa keberanian.


Lalu ketika seseorang datang

dengan langkah yang mungkin lebih nyata,

aku mencari celah,

sedikit saja alasan,

cukup untuk pergi

sebelum hatiku terlanjur tinggal.


Bukan karena aku tak ingin,

tapi karena aku terlalu takut

pada segala yang bisa terjadi setelahnya.


Aku takut gagal,

takut tidak cukup,

takut melihat diriku sendiri

retak di tangan orang lain.


Maka aku memilih jarak,

menciptakan ruang,

dan menyebutnya “keputusan yang tepat”

padahal itu hanya ketakutanku yang rapi.


Lucunya,

aku bisa menghadapi banyak hal di dunia ini,

persaingan, tekanan, kehilangan,

tapi tidak dengan cinta

yang meminta aku untuk terbuka.


Dan di antara semua rasa

yang datang lalu hilang,

aku mulai mengerti satu hal:

bukan mereka yang tak bertahan,

melainkan aku

yang selalu pergi lebih dulu

sebelum sempat benar-benar tinggal.