Antara Tanda dan Kebetulan


Ingatankanku berkhayal jauh ,
kejadian 4 tahun lalu,
Saat itu tidak istimewa,

hanya kota yang ramai,
dua orang yang sudah saling kenal terlalu lama,
dan jarak yang tiba-tiba terasa berbeda.

Aku duduk di dekatmu,
mengenali sesuatu yang tak terlihat
atau mungkin hanya ingatan samar samar

Kau bicara seperti biasa,
ringan, tanpa beban,
seolah tak ada yang perlu ditafsirkan.

Tapi aku,
aku selalu menemukan makna
di satu kalimatmu lewat begitu saja,

Dan entah kenapa,
aku menangkapnya lebih dalam
dari yang seharusnya.

Mungkin aku lelah
menjadi orang yang selalu diam,
maka kali ini aku memilih aman,
kata-kata yang tak membuka apa-apa,
yang tak mengubah apa-apa.

Aku menyebut nama lain,
menarik garis yang bahkan tak kau minta,
seolah ingin memastikan
bahwa aku tidak sedang berharap.

Lalu kau bilang
kau sudah sendiri sekarang.

Dan waktu seperti berhenti,
bukan karena pasti,
tapi karena kemungkinan
tiba-tiba terasa terlalu dekat.

Namun aku tidak bergerak.

Karena aku tahu,
tidak semua yang terdengar seperti tanda
benar-benar berarti apa-apa.

Mungkin kau hanya mengajakku
karena kebetulan.
Mungkin aku hanya pilihan yang ada.
Mungkin tidak ada cerita
yang sedang dimulai hari itu.

Dan di antara semua “mungkin” itu,
aku memilih diam.

Bukan karena aku yakin,
tapi karena aku ragu
pada perasaanku sendiri.

Sekarang, yang tersisa
bukan penyesalan yang utuh,
melainkan pertanyaan
yang tak pernah selesai:

apakah aku melewatkan sesuatu,
atau aku hanya
mencoba memberi arti
pada hal yang memang
tak pernah dimaksudkan?